Grovee.co.id , Jakarta – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang tengah mengalami tekanan hebat akibat ketidakpastian global. Hingga 21 April 2026, Bank Indonesia dilaporkan telah menyerap Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp111,54 triliun.
Langkah agresif ini diambil di tengah kondisi pasar keuangan yang fluktuatif, di mana nilai tukar Rupiah sempat menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.300 per dolar AS pada akhir April ini.
Strategi Intervensi di Pasar Sekunder
Dari total penyerapan SBN tersebut, BI mengungkapkan bahwa sebesar Rp56,53 triliun dilakukan melalui pembelian di pasar sekunder. Langkah ini bertujuan untuk:
- Menjaga Kecukupan Likuiditas: Memastikan pasar uang dan perbankan tetap memiliki daya tahan di tengah arus modal keluar (capital outflow).
- Stabilisasi Yield: Mengendalikan imbal hasil (yield) SBN agar tetap kompetitif dan tidak membebani biaya pinjaman negara.
- Menahan Volatilitas: Memberikan sinyal positif kepada investor bahwa otoritas moneter hadir di pasar untuk menjaga keseimbangan supply dan demand.
Penyebab Rupiah Tertekan
Pelemahan Rupiah hingga menembus angka Rp17.289 – Rp17.300 per dolar AS dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Ketegangan geopolitik yang berkelanjutan di Timur Tengah serta kebijakan suku bunga global yang tetap tinggi dalam waktu lama (higher for longer) menjadi motor utama penguatan dolar AS secara global.
Gubernur Bank Indonesia, dalam pernyataan pasca Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, menegaskan bahwa BI tetap berkomitmen menggunakan seluruh bauran kebijakan. Selain intervensi SBN, BI juga mempertahankan BI-Rate di level 4,75% untuk menjaga daya tarik aset domestik.
“Pembelian SBN merupakan bagian dari sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga,” tulis pernyataan resmi BI.
Kondisi Cadangan Devisa
Meski intervensi dilakukan secara masif, cadangan devisa Indonesia tercatat masih berada di level yang kuat, yakni US$148,2 miliar per akhir Maret 2026. Angka ini dinilai lebih dari cukup untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta mendukung langkah stabilisasi ke depan.
Proyeksi Ekonomi ke Depan
Para analis memprediksi bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda mungkin masih akan berlanjut hingga pertengahan kuartal II-2026. Namun, dengan penyerapan SBN yang terukur dan sinergi bersama Kementerian Keuangan, fundamental ekonomi Indonesia diharapkan tetap solid dengan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,7%.





