Groove.co.id, Medan – Mehdi Taj, Ketua Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI), menyatakan bahwa para pemain timnas wanita Iran mengalami intervensi aparat Australia terkait rumor permintaan suaka setelah Piala Asia Wanita 2026.
Kasus ini berawal ketika timnas wanita Iran menolak menyanyikan lagu kebangsaan saat menghadapi Korea Selatan dalam turnamen tersebut, yang kemudian memicu kontroversi panjang.
Media pemerintah Iran sempat melaporkan para pemain sebagai “pengkhianat perang” dan bahkan mengklaim mereka akan menghadapi hukuman berat ketika kembali ke Iran. Meski begitu, dalam pertandingan berikutnya, timnas wanita Iran kembali menyanyikan lagu kebangsaan. Mehdi Taj menegaskan bahwa menghormati lagu kebangsaan adalah kewajiban setiap pemain.
“Tim nasional wanita kami menyanyikan lagu kebangsaan dan memberi hormat militer,” ujar Taj, dikutip AFP.
Dalam kesempatan yang sama, Taj menyoroti peran Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pemberian suaka kepada lima pemain Iran dan tambahan dua pemain lain yang diterima Australia.
“Presiden AS sendiri menulis cuitan dua kali mengenai tim wanita, mengatakan ‘kami menyambut mereka dan mereka harus menjadi pengungsi’,” ungkap Taj. “Ia juga menekan Australia dengan pernyataan bahwa jika mereka tidak memberikan suaka, AS akan menyalurkannya sendiri.”
Campur tangan tersebut membuat Iran mempertanyakan keikutsertaan timnya dalam Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung kurang dari tiga bulan ke depan.
“Bagaimana mungkin optimis menghadapi Piala Dunia yang digelar di Amerika? Jika turnamen seperti ini, siapa yang waras akan mengirim tim nasionalnya?” kata Taj.
Terkait proses suaka di Australia, Taj mengklaim bahwa para pemain sempat dihadang aparat sebelum resmi diberikan perlindungan.
“Sayangnya, setelah pertandingan polisi Australia datang dan turun tangan, mengeluarkan satu atau dua pemain dari hotel, menurut informasi yang kami dapatkan,” jelas Taj.
Mehdi Taj juga menyinggung tragedi tewasnya lebih dari 160 siswi Iran akibat serangan AS-Israel di sekolah putri Minab.
“Mereka membunuh gadis-gadis kami, lebih dari 160 orang, dan dalam insiden ini mereka menyandera anak-anak kami. Tindakan itu sungguh mengerikan,” ucap Taj. “Tadi malam, beberapa orang bahkan berbaring di depan mobil yang mereka kendarai menuju bandara,” tambahnya.





