Sebuah video dari kanal YouTube Al Jazeera AJ+ Arabic membahas klaim yang tengah viral mengenai dugaan penggunaan pesawat dan tank tiruan berbentuk balon oleh Iran untuk mengelabui serangan Amerika Serikat dan Israel. Hingga kini, pihak Iran belum mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut.
Dalam video tersebut, narator mempertanyakan validitas klaim tersebut sekaligus memberikan konteks sejarah terkait penggunaan peralatan militer palsu dalam peperangan.
“Bayangkan jika AS atau Israel menembakkan rudal bernilai jutaan dolar hanya untuk menghancurkan balon yang harganya kurang dari 500 dolar AS (sekitar Rp8,45 juta),” jelas narator. Ia menambahkan bahwa meski banyak gambar dan poster terkait informasi ini beredar, belum ada laporan resmi yang mengonfirmasi kejadian tersebut.
Narator menilai cepatnya kabar ini menyebar karena strategi serupa memang pernah diterapkan dalam sejarah militer.
“Salah satu alasan orang mudah percaya kabar seperti ini adalah karena metode tersebut memang pernah digunakan oleh angkatan bersenjata,” ujarnya.
Sebagai contoh modern, narator menyebut konflik Rusia-Ukraina, di mana penggunaan target tiruan terbukti efektif dalam mengelabui musuh.
“Dalam perang antara Ukraina dan Rusia, model tiruan digunakan secara masif. Semakin banyak drone menyerang tank, kedua pihak memanfaatkan tank palsu untuk menipu lawan,” jelasnya.
Beberapa model sederhana dibuat dari kayu atau kain agar menyerupai kendaraan, seperti BMP-1, sementara beberapa replika lebih kompleks meniru tank seperti Leopard 2A6 dan T-72. Ada juga tank tiup yang mudah dipindahkan. Beberapa replika bahkan dilengkapi teknologi tambahan yang meniru panas atau sinyal radar, sehingga terlihat nyata bagi drone. Strategi ini dinilai murah namun efektif dalam melindungi tank asli di medan tempur.
Video itu juga menyinggung contoh historis dari Perang Dunia II, ketika Amerika Serikat khawatir fasilitas milik Lockheed Martin menjadi target Jepang.
“Untuk menyamarkan pabrik pesawat tersebut, AS merekrut desainer dari Disney dan Paramount,” kata narator. Langkah yang dilakukan antara lain mengecat landasan pacu dan area parkir dengan warna hijau serta menanam vegetasi agar terlihat seperti ladang semanggi dari udara. Pabrik utama ditutupi jaring kain berwarna sehingga kawasan tersebut tampak seperti wilayah pedesaan biasa dari udara. Strategi ini berhasil, dan fasilitas tersebut berhasil disembunyikan dari pengamatan Jepang.





