Grovee.co.id , Jakarta – Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa laju inflasi di Amerika Serikat (AS) berpotensi sulit turun dalam waktu dekat akibat dampak berkepanjangan dari konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menegaskan bahwa tekanan harga global tidak akan langsung mereda bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh gangguan besar pada rantai pasok energi dan komoditas global.
“Harga barang akan membutuhkan waktu lama untuk kembali normal, bahkan setelah perang mereda,” ujar Georgieva.
Dampak Perang Iran terhadap Inflasi AS
Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya telah memicu lonjakan harga energi global, terutama minyak dan gas. IMF menilai kondisi ini menjadi faktor utama yang menahan penurunan inflasi di berbagai negara, termasuk AS.
Kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya produksi dan distribusi, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang konsumsi.
IMF memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10% dapat meningkatkan inflasi global hingga 0,4 persen dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
Inflasi Global Diprediksi Tetap Tinggi
Selain AS, tekanan inflasi juga dirasakan secara global. IMF menyebutkan bahwa konflik Iran telah menyebabkan:
- Gangguan distribusi energi global
- Kenaikan harga pupuk dan pangan
- Ketidakpastian pasar keuangan
Akibatnya, banyak negara menghadapi risiko inflasi tinggi disertai pertumbuhan ekonomi yang melambat (stagflasi).
IMF menegaskan bahwa “semua jalan mengarah pada harga lebih tinggi dan pertumbuhan lebih lambat” di tengah konflik yang belum mereda.
Selat Hormuz Jadi Faktor Kunci
Salah satu faktor utama yang memperparah situasi adalah terganggunya jalur perdagangan energi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dunia.
Gangguan di wilayah ini menyebabkan pasokan energi global tersendat, sehingga harga minyak tetap tinggi dan sulit dikendalikan.
Dampak Jangka Panjang bagi Ekonomi AS
Bagi Amerika Serikat, kondisi ini membuat upaya bank sentral dalam menekan inflasi menjadi semakin kompleks. Kenaikan harga energi dapat memicu efek domino pada sektor lain, seperti:
- Transportasi
- Industri manufaktur
- Harga pangan
IMF juga mengingatkan bahwa inflasi yang persisten berpotensi memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kesimpulan
IMF menilai bahwa perang Iran bukan hanya konflik geopolitik biasa, tetapi telah menjadi faktor struktural yang menahan penurunan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat.
Selama ketegangan masih berlangsung dan pasokan energi belum stabil, inflasi diperkirakan akan tetap tinggi dan sulit kembali ke level normal dalam waktu dekat.





