Grovee.co.id , Jakarta – Harga minyak dunia melemah pada perdagangan terbaru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penundaan serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari. Kebijakan tersebut memicu optimisme pasar terhadap potensi meredanya konflik di Timur Tengah.
Minyak mentah jenis Brent tercatat turun sekitar 0,8% menjadi sekitar US$107,11 per barel, sementara minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melemah sekitar 0,88% ke level US$93,65 per barel. Penurunan ini terjadi setelah pasar merespons positif langkah diplomasi yang ditempuh Washington dalam konflik dengan Teheran.
Pasar Energi Merespons Sinyal Deeskalasi
Penurunan harga minyak dipicu oleh pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik berjalan cukup baik. Sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan, Amerika Serikat menghentikan sementara serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga awal April.
Langkah tersebut dianggap sebagai sinyal deeskalasi yang dapat mengurangi gangguan terhadap pasokan minyak global. Sebelumnya, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sempat mendorong lonjakan harga minyak karena kekhawatiran terhadap distribusi energi dunia.
Pasokan Global Masih Tertekan
Meski harga minyak turun, pasar energi masih menghadapi tekanan akibat terganggunya jalur distribusi minyak. Konflik yang melibatkan Iran disebut telah mengurangi sekitar 11 juta barel minyak per hari dari pasokan global, menjadikannya salah satu krisis energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Selain itu, jalur strategis Selat Hormuz—yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—sempat mengalami gangguan akibat konflik tersebut. Namun, laporan terbaru menyebutkan Iran telah mengizinkan sejumlah kapal tanker minyak melintas sebagai bentuk itikad baik dalam proses negosiasi.
Prospek Harga Minyak ke Depan
Pelaku pasar memperkirakan harga minyak masih akan berfluktuasi dalam jangka pendek seiring perkembangan situasi geopolitik. Jika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan kemajuan signifikan, harga minyak berpotensi kembali stabil.
Sebaliknya, apabila konflik kembali memanas atau pasokan energi terganggu, harga minyak dapat kembali melonjak di pasar global.





