Grovee.co.id , Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menyentuh US$113 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait pembukaan kembali jalur strategis perdagangan energi di Selat Hormuz.
Lonjakan harga ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi “neraka” jika tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat. Pasar global merespons ancaman tersebut dengan lonjakan harga minyak mentah yang signifikan.
Ketegangan AS–Iran Picu Lonjakan Harga Minyak
Berdasarkan laporan pasar energi global, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat naik hingga sekitar US$113,67 per barel, sementara minyak acuan global Brent juga bergerak naik mendekati US$110 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jika Iran menolak, Washington mengancam akan melakukan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Para pelaku pasar menilai ancaman tersebut berpotensi memicu gangguan pasokan minyak global, sehingga mendorong investor melakukan aksi beli besar-besaran di pasar komoditas energi.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Pasar Energi
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global, sehingga gangguan kecil saja dapat berdampak besar terhadap harga minyak.
Analis energi menyebut bahwa potensi penutupan atau konflik militer di kawasan tersebut dapat mengurangi pasokan minyak global secara drastis dan memicu lonjakan harga yang lebih tinggi lagi.
Ketegangan meningkat setelah Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan besar jika AS melancarkan serangan terhadap fasilitas energi atau infrastruktur sipil di negaranya.
Pasar Energi Diliputi Ketidakpastian
Para analis menilai lonjakan harga minyak saat ini lebih dipicu oleh risiko geopolitik dibanding faktor fundamental supply-demand. Ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah membuat pasar energi sangat sensitif terhadap setiap pernyataan politik maupun perkembangan militer.
Beberapa lembaga keuangan bahkan memperingatkan bahwa jika konflik terus meningkat, harga minyak berpotensi menembus US$120 hingga US$130 per barel dalam jangka pendek.
Di sisi lain, sejumlah negara produsen minyak serta organisasi energi global tengah memantau situasi untuk mengantisipasi gangguan pasokan yang lebih luas.
Dampak bagi Ekonomi Global
Lonjakan harga minyak biasanya berdampak langsung pada inflasi global, biaya transportasi, serta harga energi di berbagai negara. Jika konflik AS–Iran terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga bahan bakar di banyak negara akan ikut melonjak dalam beberapa bulan ke depan.
Pasar kini menunggu perkembangan diplomatik maupun militer berikutnya yang akan menentukan arah harga minyak dunia dalam waktu dekat.





