Grovee.co.id , Jakarta – Harga minyak dunia anjlok tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan menunda serangan militer terhadap fasilitas energi Iran. Keputusan ini langsung meredakan kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan minyak global dari kawasan Timur Tengah.
Penurunan harga terjadi pada perdagangan awal pekan setelah Gedung Putih mengumumkan penundaan serangan selama beberapa hari. Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal meredanya ketegangan geopolitik yang sebelumnya membuat harga minyak melonjak tajam.
Harga Minyak Dunia Turun Lebih dari 13 Persen
Berdasarkan data perdagangan energi global, harga minyak mentah jenis Brent turun hingga sekitar 15% dan sempat menyentuh kisaran US$96 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) jatuh sekitar 13,5% ke level US$85,28 per barel.
Penurunan tajam ini terjadi karena investor menilai risiko gangguan produksi minyak di Timur Tengah menjadi lebih kecil setelah keputusan penundaan serangan tersebut.
Sebelumnya, pasar energi global sempat bergejolak akibat ancaman konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi merusak infrastruktur energi di kawasan tersebut.
Trump Klaim Ada Percakapan Produktif dengan Iran
Dalam pernyataannya, Donald Trump menyebut keputusan menunda serangan dilakukan setelah adanya “percakapan yang sangat baik dan produktif” terkait upaya meredakan konflik. Namun pihak Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan pemerintah AS.
Ketegangan antara kedua negara sebelumnya meningkat setelah ancaman serangan terhadap pembangkit listrik dan fasilitas energi Iran. Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global.
Dampak ke Pasar Keuangan Global
Penurunan harga minyak juga berdampak positif pada pasar saham global. Indeks saham di Wall Street dilaporkan menguat setelah investor melihat peluang meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Meski demikian, analis memperingatkan bahwa volatilitas harga minyak masih mungkin terjadi karena konflik di kawasan tersebut belum sepenuhnya mereda.
Risiko Pasokan Masih Membayangi
Para analis energi menilai harga minyak masih sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. Infrastruktur energi di kawasan tersebut sangat vital bagi pasokan minyak dunia sehingga setiap eskalasi konflik dapat kembali memicu lonjakan harga.
Selain itu, kerusakan sejumlah fasilitas energi selama konflik sebelumnya juga diperkirakan akan memengaruhi stabilitas pasokan minyak dalam jangka menengah.





