Grovee.co.id , Jakarta – Maskapai pelat merah Garuda Indonesia mencatat kerugian besar sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, Garuda Indonesia rugi Rp5,4 triliun sepanjang 2025, meskipun industri penerbangan mulai pulih setelah pandemi.
Kerugian tersebut menjadi sorotan karena perusahaan sebelumnya telah menjalani proses restrukturisasi besar untuk memperbaiki kondisi keuangan.
Pendapatan Garuda Indonesia Belum Mampu Tutupi Beban Operasional
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan Garuda Indonesia memang menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, beban operasional yang tinggi masih menjadi faktor utama yang menekan kinerja perusahaan.
Beberapa komponen biaya yang paling besar antara lain:
- Biaya bahan bakar avtur
- Biaya perawatan pesawat
- Beban sewa pesawat
- Kewajiban utang hasil restrukturisasi
Kenaikan harga energi global juga ikut memperburuk kondisi keuangan maskapai nasional tersebut.
Dampak Restrukturisasi Masih Terasa
Sebelumnya, Garuda Indonesia menjalani restrukturisasi besar melalui proses hukum di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat untuk menyelesaikan utang kepada para kreditur.
Restrukturisasi tersebut berhasil menurunkan total kewajiban perusahaan secara signifikan, namun beban finansial dari perjanjian restrukturisasi masih mempengaruhi arus kas perusahaan hingga saat ini.
Pihak manajemen menyatakan bahwa proses pemulihan keuangan membutuhkan waktu beberapa tahun.
Persaingan Industri Penerbangan Semakin Ketat
Selain faktor internal, industri penerbangan juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dari maskapai lain seperti Lion Air dan Citilink yang menawarkan harga tiket lebih kompetitif.
Hal ini membuat Garuda Indonesia harus menyesuaikan strategi bisnis agar tetap mampu menarik penumpang, terutama pada rute domestik yang menjadi pasar utama.
Strategi Garuda Indonesia di 2026
Untuk memperbaiki kinerja keuangan, manajemen Garuda Indonesia menyiapkan beberapa strategi pada tahun 2026, antara lain:
- Optimalisasi rute penerbangan yang menguntungkan
- Efisiensi biaya operasional
- Penambahan kerja sama dengan mitra internasional
- Peningkatan layanan premium
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan memperbaiki posisi keuangan perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.





