Grovee.co.id , Jakarta – Mobilitas berkelanjutan kini bukan lagi sekadar tren, melainkan standar hidup global. Baru-baru ini, laporan Global Urban Mobility Index 2026 merilis daftar 20 kota paling ramah pejalan kaki di dunia. Sayangnya, bagi warga Ibu Kota, nama Jakarta masih belum berhasil menembus daftar prestisius tersebut.
Laporan ini mengevaluasi kota-kota berdasarkan kepadatan trotoar, aksesibilitas transportasi umum, keamanan pejalan kaki, hingga ruang terbuka hijau yang terintegrasi.
Mengapa Jakarta Belum Masuk Hitungan?
Meski revitalisasi trotoar di kawasan Sudirman-Thamrin dan pembangunan transportasi publik seperti LRT dan MRT terus berkembang, Jakarta masih menghadapi tantangan besar:
- Konektivitas Last Mile: Belum meratanya jalur pejalan kaki dari pemukiman menuju stasiun.
- Polusi Udara: Meskipun infrastruktur ada, kualitas udara masih menjadi hambatan bagi warga untuk berjalan kaki dengan nyaman.
- Budaya Berkendara: Ketergantungan tinggi pada kendaraan roda dua dan pribadi yang seringkali “memakan” hak pejalan kaki di trotoar.
Daftar 20 Kota Paling Ramah Pejalan Kaki 2026
Berikut adalah daftar kota yang berhasil menciptakan ekosistem di mana kaki manusia lebih berharga daripada roda mesin:
| Peringkat | Kota | Negara | Keunggulan Utama |
| 1 | Copenhagen | Denmark | Kota “15 Menit” terbaik di dunia. |
| 2 | Amsterdam | Belanda | Integrasi kanal dan jalur pejalan kaki yang mulus. |
| 3 | Utrecht | Belanda | Pusat kota yang hampir sepenuhnya bebas kendaraan. |
| 4 | Paris | Prancis | Transformasi besar-besaran jalur hijau di tepi sungai Seine. |
| 5 | Stockholm | Swedia | Keamanan pejalan kaki dengan angka kecelakaan terendah. |
| 6 | Madrid | Spanyol | Perluasan zona rendah emisi di pusat kota. |
| 7 | Helsinki | Finlandia | Desain tata kota yang sangat inklusif bagi difabel. |
| 8 | Berlin | Jerman | Lebar trotoar yang sangat lega dan teduh. |
| 9 | Vienna | Austria | Kualitas ruang publik dan estetika arsitektur. |
| 10 | Tokyo | Jepang | Kota Asia paling walkable dengan koneksi transit terbaik. |
| 11 – 20 | Singapura, Zurich, Munich, Seoul, Barcelona, Oslo, Melbourne, Vancouver, Portland, London. |
Tren Urbanisme 2026: Konsep “15-Minute City”
Mayoritas kota dalam daftar di atas menerapkan konsep 15-Minute City. Artinya, warga dapat mengakses kebutuhan dasar (kantor, sekolah, supermarket, kesehatan) hanya dengan berjalan kaki atau bersepeda selama maksimal 15 menit dari rumah.
“Kota yang maju bukanlah kota di mana orang miskin memiliki mobil, tetapi di mana orang kaya menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki.” — Enrique Peñalosa
Apa yang Bisa Dipelajari?
Keberhasilan kota-kota seperti Singapura (peringkat 11) dan Seoul (peringkat 14) membuktikan bahwa kota di Asia yang padat pun bisa bertransformasi menjadi ramah pejalan kaki. Kuncinya bukan sekadar membangun trotoar, tapi membangun ekosistem yang memaksa kendaraan pribadi untuk mengalah demi kenyamanan warga yang berjalan kaki.
Bagi Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia, daftar ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju kota yang manusiawi masih panjang, namun bukan tidak mungkin untuk dicapai.





